Senin, 12 April 2010

PENEGAKAN ISLAM SECARA KAFFA
Dalam penegakan Islamsecara kaffa tidak semudah membalikkan telapak tangan.Kita harus bahu-membahu , namun jurang perbedaan atau heterogenitas pandangan Islam menjadi sebuah pembatas yang dapt berpotensi menciptakan perpecahan dalam tubuh Islam itu sendiri.

Berjuta-juta kepala yang beragama Islam di belahan bumi, pada kenyataannya tidak bias di pungkiri terjadi penafsiran mengenai agama(Islam) itu sendiri. Banyaknya pendapat-pendapat ahli tafsir yang berbeda pendapat membuat kita sebagai orang yang awam pusing dan bertanya “yang mana yang benar?”yang mana yang harus dicontoh?”.Semua pasti berssssssssikukuh pada pendiriannya masing-masing. Sehingga memaksa pendapat-pendapat yang berbeda itu untuk membentuk berbagai aliran-aliran seperti yang terjadi dalam tarikah2, harokah2, empat/lima madzhab, dan ormas2 yang berhubunga dengan “fiqih”,kelompok studi kajian Islam dan seterusnya.

Dalam kelonmpok di atas semua berlomba-lomba menciptakan kader2 dan kalau penulis melihatnya seperti pertandingan sengit berselimut dengan tujuan memperbanyak pengikut. Dengan pengaruh dalil2 bahkan seperti yang dialami penulis yaitu ada tindakan kelompok2 tertentu yang bersifat fatal karena melarang seseorang yang belajar pada kelompoknya untuk tidak belajar/menimba ilmu Islam kepada kelompok yang lain ..Secara tidak langsung hal itu membuat kita monotone atau fanatic terhadap kelompok-kelompok yang lain, padahal kita tidak pernah tahu sebesar apakah penilaian Allah SWT kepada kita makhluk Nya.
Kalau disimpulkan tindakan-tidakan seperti yang dilakukan oleh kelompok tersebut merupakan sebuah bentuk “PENGEKANGAN TERHADAP SESEORANG”.Padahal kita tahu bahwa secara fitrah manusia mempunyai hak kebebasan yang bertanggung jawab.(Menyelami Samudera Ilmu : 19). Kita mempunyai kebebasan belajar pada kelompok manapun kemudian memilih mana diantara kelompok-kelompok itu ajaran tersebut yang kita yakini kebenarannya. Karena semua harokah, kelompok2, ormas2, merasa benar dengan pendapat mereka masing-masing dan semua cukup memusingkan kepala kita serta meminculkan beribu tanya.

Sehingga muncul pandangan pandangan dari tokoh2 Islam yang dijunjung oleh segenap pengikutnya. Mereka berkata bahwa ini keterangan dari Allah, kita harus yakin!”katanya”.
Padahal kita tahu tokoh seperti Ibnu Qoyyim misalkan (semoga Allah memuliakannya) saja masih belajar pada kelompok2 studi Islam pada masanya, Hingga muncul pandangan-pandangan berbeda dari beliau. Semua ini karena buah dari “PENAFSIRAN”yang berbeda. Wallahua’lam Bisshawab……………kita harus bersifat tabayyun namun kita dibingungkan dengan pertanyaan “yang mana yang benar?”dan”yang mana yang benar2 bisa dijadikan tolok ukur ?” ah………….pusing yah???karena semuanya merasa benar. Tapi sebagai muslim yang cerdass kita perlu bersifat konserfatif terhadap semua pendapt2 tersebut. Kita kembalikan saja kepada Allah setelah kita memilih sebuah pilihan yang kita anggap “itulah sebuah tolok ukur”.


Dan perlu di pkirkan lagi banyak ulama yang mengatakan “Mari kita kembali kepada Al Qur’an dan As sunnah “.Padahal kita tahu bahwa kedua sumber inilah yang benar2 menjadi sebuah pedoman dan tolok ukur umaut Islam. Namun, penafsiran yang berbeda dari kedua sumber ini yang membuat kita berhadapan lagi dengan pikiran2,ahli tafsir yang berbeda pandangan. Penulis berkata “KITA TELAH MENEMUKAN SEBUAH UJUNG TETAPI UJUNG ITU MASIH MEMPUNYAI UJUNG DAN UJUNGNYA BERUJUNG JUGA BEGITU SETERUSNYA…..”Sehingga penulis hanya berkata Wallahua’lam Bisshawab………Kita ikhtiar dan mengembalikannya pada Yang Maha Mengetahui….Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar